Berwisata ke Bandung, kota yang cu kup terkenal dengan obyek wisata alam Gunung Tangkuban Perahu, terasa kurang lengkap sebelum menikmati kesegaran dan kehijauan pemandangan alam obyek wisata Air Terjun Curug Cimahi. Curug Cimahi berasal dari kata curug (bahasa Sunda) yang berarti air terjun. Sedangkan kata Cimahi berasal dari nama sungai yang mengalir di atasnya, yaitu Sungai Cimahi yang berhulua di Situ (danau) Lembang.Obyek wisata ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1978, dengan menempati area seluas 2 hektar dan merupakan obyek wisata air terjun tertinggi di antara air terjun lainnya di Bandung, dengan ketinggian sekitar 85 meter. Menurut cerita yang berkembang dalam masyarakat setempat, menadahkan badan di bawah siraman air terjun ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, terapi kesehatan, dan pembangkit aura. Sebab, air terjun tersebut memancarkan aura positif yang akan membantu meningkatkan energi tubuh dan memacu proses kesembuhan.Dalam jarak belasan meter, pengunjung sudah dapat merasakan kesejukan air terjun dan melihat jernihnya aliran air terjun. Dengan kondisi air yang seperti itu, wisatawan dapat mandi, beredam, atau bermain-main pada air terjun tersebut sambil melihat cipratan air yang mirip dengan butiran mutiara. Pada waktu tertentu, wisatawan juga dapat melihat pelangi yang tampak indah di lokasi ini.ntuk menuju lokasi air terjun, pengunjung harus menuruni jalan setapak berundak-undak sebanyak 520 undakan yang terbuat dari batu kali. Di sebelah kiri jalan merupakan dinding bukit yang berupa tanah. Sedangkan di bagian kanan jalan terdapat pagar pengaman yang terbuat dari kayu sebagai pelindung dari jurang yang berada di bawahnya. Selama menyusuri jalan berundak itu, pengunjung akan melihat pemandangan alam yang indah di sekitar lokasi air terjun, satwa-satwa liar seperti burung yang bertengger di ranting-ranting pohon, dan monyet yang saling berkejaran dari satu ranting ke ranting pohon yang lain. Untuk mendibutuhkan waktu sekitar 20—30 menit dari pintu masuk.Obyek wisata Air Terjun Curug Cimahi terletak di Jalan Kolonel Masturi, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat, Indonesia.Wisatawan yang ingin berkunjung ke obyek wisata Curug Cimahi, dapat menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Jika wisatawan menggunakan kendaraan pribadi (mobil) dari pusat Kota Bandung, perjalanan dapat menyusuri jalur Ciheudeung menuju Cisarua dengan waktu sekitar 1 jam perjalanan.Di sekitar area air terjun Curug Cimahi terdapat para pedagang yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Terdapat juga para pedagang mainan anak, topi, dan cenderamata. Fasilitas lain yang terdapat di area wisata ini ialah mushala, parkir luas, shelter (tempat bersantai), pagar pengaman, pusat informasi, dan peta lokasi obyek wisata.
Salah satu objek wisata alam di bandung yaitu curug ciomas… di curug ini selain kita dapat menikmati keindahan alamnya , kita juga bisa menikmati kuliner khas kota bandung,Jarak dari kota Bandung sekitar 21 km (15 menit perjalanan kendaraan roda empat) dari Lembang kearah timur. Rekreasi dengan pemandangan indah dan berudara sejuk ini, selain memiliki sumber air panas mengandung mineral, juga terdapat air terjun Ciomas setinggi 25 meter. Bagi yang senang berpetualang dari Maribaya da pat menerobos bukit bukit yang rimbun dengan pohon pinus dari kina, berjalan kaki ke Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda 5 km atau kedaerah Arcamanik.Curug Omas terletak di lokasi wisata Maribaya, Lembang. Objek wisata ini menawarkan pesona air terjun dan keindahan alam di sekitarnya. Kesegaran udara langsung terasa begitu kita memasuki area objek wisata, hal itulah yang banyak dimanfaatkan oleh pengunjung untuk duduk-duduk atau tidur-tiduran di atas tikar yang banyak disewakan di area wisata. Tetapi bukan hanya suasana segar yang ditawarkan, Anda akan menjumpai air terjun setinggi 30 meter disana. Gemuruh air terjun terdengar dari area di sekitarnya, menggugah kita untuk mendekatinya. Di sana disediakan jembatan yang tepat berada di atas air terjun, sehingga memudahkan kita untuk menikmati pemandangan air terjun dari atas. Sejenak Anda dapat memanjakan telinga dengan menikmati suara gemuruh air terjun, memanjakan mata dengan melihat pelangi yang seringkali muncul.Selain menampilkan pesona alam yang indah, bagi anda yang suka hiking,anda bisa menikmati hal tersebut disini. Dari okasi wisata ini, kita bisa sampai ke Taman Hutan Raya Ir H Juanda dengan menempuh jarak kurang lebih 5 km. Dengan jarak yang lumayan jauh, anda bisa mendapatkan kepuasan tersendiri bagi anda yang memang hobi dengan petualangan alam.
Curug Bugbrug merupakan salah satu dari sekian banyak air terjun yang berada di kawasan Bandung. Air terjun atau curug ini merupakan aliran dari Sungai Cimahi, sama seperti Curug Cimahi hanya lokasinya berada lebih ke hulu. Lokasinya memang cukup jauh dari jalan, sehingga tidak mengherankan jika nama Curug Cimahi dan Curug Panganten lebih tenar karena papan namanya yang tampak dari jalan. Padahal untuk menjangkau curug ini sebenarnya tidak terlalu sulit.Dari arah Bandung, perjalanan menuju curug ini bisa dimulai dengan menuju Terminal Ledeng, lalu mengambil jalan ke kiri menuju Parongpong. Jika dari Cimahi, dapat menggunakan angkutan kota (angkot) jurusan Parongpong. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Curug Cimahi, tetapi turunlah di jembatan Cimahinya, tepat di depan warung penduduk. Lalu, ikuti jalan setapak yang ada di sepanjang tepi aliran Sungai Cimahi. Mula-mula, kita akan disambut oleh tebing terjal dengan bentuk kekar yang tampak seperti aliran yang terbendung (Gambar 1). Tebing tersebut merupakan hasil dari pembekuan lava yang memang banyak terdapat di Bandung.
2. Tangkuban Parahu
Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.
Dayang Sumbi sangat cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.
Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah Sangkuriang.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu juga sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.
Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
3. Situ Ciburuy
situ Ciburuy terletak di sebelah sanaan dikit dari pintu keluar tol Padalarang. Tempatnya sepi. Tidak banyak tampak orang berkunjung kesana, kecuali pasangan yang pacaran, orang yang suka engga puguh-puguh ingin menyendiri dan kurang kerjaan seperti saya, dan beberapa anak-anak muda yang berpiknik di atas perahu. Membawa bekal makanan dan tertawa-tawa girang. Tukang perahu dan perahunya tidak banyak, hanya ada beberapa. Perahunya cantik. Bercat warna-warni menyolok dan memakai dayung. Jumlahnya kurang dari jumlah jari tangan saya.
Di tengah Situ Ciburuy ada pulau kecil dengan restauran makanan Sunda disana. Naik perahu dayung Rp 15.000 bolak-balik. Kalau mau pulang dari pulau itu, silahkan teriak-teriak atau bersuit memanggil perahu yang tadi mengantar. Ini harga tanpa nawar ya. Soalnya saya paling malas tawar menawar sebenarnya. Bertentangan banget dengan pekerjaan saya sehari-hari yaitu tukang negosiasi. Kalau di restauran ini jangan pesan yang aneh-aneh. Karena dari daftar menu, kebanyakan malah tidak ada. Pesanan makanan lama sekali. Tapi ikan bakarnya enak, ikan asin jambalnya mantap. Dan sambal dadakannya pedasnya bukan main. Lalapan segar juga ada. Kalau kurang bisa metik sendiri daun Pohpohan yang tumbuh liar di pinggiran danau.
Dari kejauhan tampak tebing Citatah yang sering dijadikan latihan panjat oleh orang-orang yang suka memanjat selain pohon. Perkampungan di seberang sana, dan bukit-bukit di sekeliling. Angin bertiup agak kencang, sehingga udara terasa segar dan dingin. Situ ini sih airnya kelihatan tenang sekali, nyaris tak berombak. Lega rasanya masih ada Situ yang tersisa di Bandung ini, dan masih berair pula! Tidak seperti Situ Aksan yang tinggal nama doang dan Situ Umar yang jadi sebesar kolam ikan (huh, masih kesal saja kalau ingat nasib Situ Aksan dan Situ Umar). Semoga Situ Ciburuy yang tercatat dalam lagu ini tidak mengalami nasib seperti Situ yang lain yang dijarah eh dikeringkan untuk keserakahan manusia.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar